every pieces has it own story

Tampilkan postingan dengan label Life oh life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life oh life. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Agustus 2012

Deg-degan kah akhirnya?

Sudah hampir genap seminggu sejak tanda send-submit itu ditekan. Seminggu (harusnya) tinggal dalam hitungan beberapa jam saja untuk batas waktu yang dijanjikan, untuk kabar dihantarkan. Meski seminggu yang kemarin masih belum begitu terasa pressure-nya.
 
Ini masalah berangkat atau tidaknya dan perpanjangan perjuangan. Dari seminggu yang damai hanya beberapa hari hingga text message dari partner tertangkap sinyal. Deg-degan yang mulai terasa (agaknya).
Hello, you've got your decision days ago
And you're the one who hit it
Masih menganggap ini mimpi, atau main-main? Masih berpikir siap-ga siap? Hingga text message terakhir yang orang yang tak kalah signifikan diterima-dan bilang beliau deg-degan juga. Me too~ yang baru berasa banget sekarang :(

Jelas, tidak ada lagi kata mundur
If they say YES, then there's no other choice than go for it
Akkkkhhh....maaaak jantung saya mau copot
Dear God,
Just give the best for us


Selasa, 25 Oktober 2011

kehilangan pagi

gambar diambil dari sini

"Kehilangan pagi itu ga enak ya."
Saya baru saja mengalaminya hari ini. Yah, itu yang ada di pikiran saya sekarang. Terbangun dengan kaget karena jarum jam udah menunjukan pukul 10.00 WIB. Whaaat? seketika saya tersentak. Padahal niatnya saya mau baca-baca pagi ini, mengingat udara pagi yang masih super enak buat ngapa-ngapain dan mengumpulkan mood untuk bekal hari ini.

Pagi saya yang hilang berujung pada bangun saya yang kurang segar, kepala rasanya berat, dan badan masih pegal-pegal akibat bulutangkis di hari sebelumnya. Walaupun menyenangkan, saya akui tampaknya badan saya masih harus melakukan penyesuaian ekstra pada kegiatan yang akan jadi rutinitas saya itu sejak dua minggu kemarin. Yah, sebagai salah satu usaha untuk menuju hidup sehat. Apalagi kalo bukan membiasakan olahraga seminggu sekali.

Hwoooh...saya mau peregangan dulu nih rasanya.*liak-liuk badan*
Lirik ke arah kasur, buku Konseling pun sudah tergeletak manis. Minta banget dibaca. *Ya iyalah, materinya dari satu buku itu bahkan. No Handout this time!*
Hu yeeeeeaaaahhhhh! Yuuukk aaaaah hajar hajar hajar UTS kali ini!
I'll go over miles to reach you my mood!
Mandi dulu aaah yuuuk~

Good(late)morning sunshine!
Gambar diambil dari sini

Booster!

Lagi edisi menjelang UTS Neuropsikologi nih ceritanya. Dan sumpah, saya dalam keadaan agak tidak antusias saat itu. Yah, walaupun mengingat fakta yang banyak digadang-gadang teman seangkatan tentang UTS terakhir kami sebagai satu angkatan 2008 kali ini. Tapi ya itu, saya udah telanjur mandeg, mungkin jenuh dan berakhir pada semangat belajar yang sedikit angot-angotan. Ceritanya saya lagi iseng-iseng chat di Facebook hari minggu pagi itu, cari apapun lah pelipuran hati dari kenyataan yang pahit bahwa UTS sudah di depan mata. Beberapa orang saya sapa-sapa dan dijawablah sama mereka-mereka ini. Salah satu yang berujung dengan obrolan panjang adalah dengan salah satu junior. Dari A sampai Z, saya akhirnya cerita kalo saya lagi mau UTS dan sedang males to the max untuk belajar. Nah, anak yang satu ini serta merta menyampaikan lah kata-kata yang menurut saya oke punya. Dia juga ga henti-henti ngingetin saya buat menyegerakan shalat, tepat waktu makin bagus lagi.
Begini,


Terkadang hidup teramat melelahkan, merampas jejak hati, menggoyahkan sendi, merapuhkan iman. Hanya cinta kepada Allah-lah yang senantiasa membuat kita bisa bertahan. Cukuplah Allah yang menyemangati kita, sehingga tanpa sadar tiap peristiwa menjadi teguran atas kemalasan kita, cukuplah Allah yang memelihara ketekunan kita, karena perhatian manusia kadang menghanyutkan keikhlasan kita. Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang bermakna, pribadi yang saat membaur ia mampu menyemangati saudaranya dan saat ia sendiri ia mampu menguatkan dirinya sendiri. (Fariana, 2011)

Dan satu lagi, yang ini dari Mahatma Gandhi sih sebenernya kalo ga salah begini kutipannya :

Kepuasan terletak pada USAHA dan bukan pada HASIL. USAHA keras adalah KEMENANGAN yang HAKIKI
-Mahatma Gandhi-


Sedikit banyak kata-kata ini jadi semacam cambuk bagi saya untuk bangkit kembali dan semangat buat hajar UTS. Yah, memang benar yang utama adalah sejauh dan sekeras apa kita berusaha. Perihal hasil memang akan muncul belakangan dan manakala hasil itu ternyata tak sesuai ekspektasi semula maka yang terpenting upaya termaksimal sudah kita lakukan-upayakan. Usaha terbaik sudah kita berikan dengan optimal dan hasil yang akan kita petik nanti Insya Allah tidak akan membuat kita kecewa. Ya nggak ?


Thanks ya, Ki. I owe you one :)

Selasa, 02 Agustus 2011

Enough for me?

Ini nih, yang masih dari kemarin-kemarin ngeganggu pikiran saya. Jadi, kali ini masih juga akan saya bahas tentang hal ini.
Just to make me 'plong' :D

Ada orang-orang yang selalu bisa menjaga koneksi dengan orang-orang lain di lingkaran pertemanannya, secara intens. Mungkin hampir tiap hari, atau paling tidak bertukar kabar tiap bulan. Saya termasuk orang yang ingin sekali bisa begitu ke orang-orang di lingkaran koneksi saya. Tapi, dari dulu sampai sekarang tampaknya bukan gitu gaya 'perkoneksian' saya. Bagi saya, cukuplah dengan bertukar kabar setiap kali saya ada di tempat yang dekat dengan mereka dan mengusahakan ketemuan, juga melaksanakannya.
Dulu begitu. Saya rasa, seharusnya begitu pun untuk sekarang tetap sama. Cukup untuk saya. Tapi, yang saya rasa sekarang rasanya intensitas perkoneksian ini justru kurang buat saya. Saya pengen loh, bisa tetep ngobrol sama temen deket saya dulu pas SMA yang ada di Jogja misalnya. Tetap curhat dan update info, tetap saling bagi cerita kayak pas SMA. Kenyataannya, saya ga bisa maintain hubungan yang kayak gitu, walau ada media sosial macam fb sekalipun.
Dan ini justru membuat saya makin iri, kalo lihat postingan atau wall yang lain. Pengen deh bisa sering2 tukar kabar sama mereka. Tapi toh nyatanya saya yang ga bisa. Diri pribadi saya sendiri yang ga mampu. Saya pun share masalah ini sama Peppi dan bisa ditebak dia pun bingung dengan keimpulsifan saya ini. Yang tiba-tiba ngomongin ini, tiba-tiba bisa kepikiran hal macam gini. Pas malem-malem pula saya meracaunya. hahaha
Dan, sepenggal kata-kata dari dia cukup bikin saya tenang.
" Gue juga termasuk orang yang kayak lu Sis, tipenya. Kalo gue udah balik ke Depok, gue jadi jarang hubungin temen gue di Lampung, tapi ya gue tetep ngejaga silaturahmi ke temen gue. Kalo setiap pulang gue nemuin temen-temen gue itu. Menurut gue itu lumayan cukup untuk ngejaga pertemanan kami. Menurut gue untuk ngejaga pertemanan itu ga musti komunikasi intens atau gimana, yang penting tetap ada komunikasi yang berlanjut. Kalo gw justru memilih untuk ga terlalu dekat kalo sahabatan, gunanya ya untuk saling ngejaga aja."

Dan, saya pun berkaca pada diri sendiri. Mungkin memang dengan cara ini seharusnya saya dicukupkan, demi kebaikan masing-masing juga. Yah, untuk saat ini. Cukuplah nikmati dan syukuri apa yang saya punyai. Untuk apa komplain kalo dengan cara itu saya pun bisa bahagia. Saya toh tetap bisa berhubungan baik dengan teman-teman saya itu.
Itu cukup bagi saya, untuk saat ini. Kalopun tidak, saya harus mencukupkannya. Paling tidak, cukup itu tidak hanya sebatas cukup. Tapi cukup itu benar-benar cukup untuk bisa menjaga tali silaturahmi antarkami. Mungkin itu memang cara saya berkoneksi. Yes, it is enough. It should be. It must be.

Lantas, jika dulu-dulu saja saya ngerasa cukup kenapa justru baru sekarang ngerasa kurang?Apakah kebutuhan saya akan afilisi meninggi? Atau cuma sekedar impulsif sesaat saya aja?Atau ada alasan lain? Hmm... what do you think?

Jumat, 08 Juli 2011

buat apa. apa gunanya.

hubungan itu harusnya dua arah kan?
saling mengerti itu harusnya dua arah kan?
saling mendukung itu harusnya dua arah kan?
saling mengingatkan harusnya dua arah kan?
Kalau tidak, buanglah saja saling yang ada
maka yang ada: searah. menuju. ke. Atau... hanya dari. untuk.
kalo hanya mengerti tapi tidak dimengerti, apa jadinya kalau satu pihak lelah untuk mengerti?
kalo hanya mendukung tanpa didukung bisa kali lama-lama roboh juga
kalo hanya mengingatkan tanpa diingatkan, alpha itu punya semua orang bung.
kalo yang ada cuma dikhawatirin tanpa khawatir, bisa jadi posesif atau malah paranoid.
segala sesuatu yang baik itu (seharusnya) berjalan seimbang.
Memberi tak akan pernah baik tanpa sekali-kalinya pernah menerima.
Semuanya perlu karena kita pun tidak selalu kokoh. tidak selalu kuat.
ada masa-masa dimana kita rapuh. butuh didorong. butuh disokong.
kadang hanya perlu diingatkan. tapi terkadang hingga butuh tempat bersandar.
Kalau bukan aku dan kamu, siapa lagi yang bisa menjadi tempat aman, muara pelarian. tempat berlabuh. tempat melepas lelah.
kalau bukan kita, maka tidak akan ada hubungan. tidak akan ada interaksi kemauan dua pihak.
yang ada hanya mauku atau maumu.
Mau kita?
Entah apa dan kemana.
Jadi buat apa?


*terinspirasi dari dengar cerita dan juga kejadian yang pernah singgah dan dicecap aku, kamu, kita sendiri

Rabu, 15 Juni 2011

KAUP oh KAUP : Sekilas perjalanan :)

Semester 6 akhirnya berakhir sudah dan bukan berarti tidak menyisakan kenangan. Ada satu mata kuliah di semester ini yang (semestinya) disetujui oleh hampir semua mahasiswa semester 6 Psiko UI sebagai mata kuliah yang mengalihkan dunia mereka. Mata kuliah ini udah tenar banget semenjak dikumandangkan oleh senior, even pas kami masih ada di semester-semester awal menjalani perkuliahan di Psiko UI tercinta. Dan mata kuliah ini juga yang sejujurnya memang paling membekas bagi saya di semester ini.
Menjadi mahasiswa hampir semester akhir, membuat saya mengingat kembali masa-masa saat kami masih memiliki beberapa angkatan senior di atas. Mulai dari angkatan 2006 dengan kak Dewi, kak Oi, Kak Wuri, Kak Yoke, Kak Kiki Jeruk, dan banyak lagi yang notabene saya kenal di AAJ. Menjalani masa menjadi junior yang paling bontot di psiko bersama senior seperti mereka merupakan masa-masa yang menyenangkan. Dan memang dari mereka pula nama mata kuliah KAUP (Konstruksi Alat Ukur Psikologis) tak luput dari perhatian kami. Mata kuliah yang konon katanya menjadi dewanya semester 6 *kalo ini istilah saya sih :P
Melegenda *cieee* mungkin karena setelah proses pembuatan kita sebagai kelompok akan diuji dengan adanya Kompre untuk melihat pemahaman kami terhadap alat ukur yang kami buat. Saya sadar giliran kami akan semakin mendekati waktunya saat angkatan 2007 'tampil' dalam masanya ber-KAUP ria. Kali ini euforia dan suasana KAUP semakin terasa karena saya yang telah bergabung dengan BEM dan mendapati mumetnya pengurus BEM angkatan 2007 yang berjibaku dengan KAUP kelompoknya masing-masing. Semangat yang naik kemudian turun--naik lagi, mood depressed atau putus asa yang kadang-kadang muncul....hingga puncaknya saat Kompre itu sendiri. Gila, kagum banget saya sama mereka yang udah melalui Kompre. Mereka hebat! Yah, senior-senior saya memang super semua sih! :D
Bener deh, bagi saya pribadi kompre itu sungguh terlihat menakutkan. Yes, you got the point! Scary for me that have a trouble for saying something apa ya hmmm...so organized in mind. Saya ini orang yang paling ga bisa ngomong runut dengan lancar, pasti deh muter-muter atau paling buruk ya saya hilang di tengah jalan- ngeblank aja gitu sama apa yang mau saya omongin. Sementara itu, kami pun sadar tinggal menghitung hari di 1 semester hingga KAUP benar-benar menjelang dan menjadi masanya kami untuk menghadapinya.

Satu yang bikin deg-degan juga di KAUP adalah kelompok yang menurut saya juga menentukan keberhasilan KAUP ini. Nggak bisa dipungkiri, urusan kelompok ini menjadi sesuatu yang krusial karena kami yang akan berjuang selama 1 semester demi puncaknya kompre nanti. Harus ada apa ya (kalo saya bilang chemistry, terlalu berlebihan) jadi mungkin rasa klop yang udah terbina dari awal. At least, kita tahu anggota kelompok kita dan bisa percaya sama mereka. Karena kita nanti akan kerja bareng kan. Sering menghabiskan waktu bersama kan, tidur bareng bahkan saat sleepover.
Akhirnya terpilihlah formasi super untuk kelompok KAUP yang kemudian diberi nama KOPROL : Eky, Dania, Daniel, Alim, Saya, dan Wanda. YES, WE ARE THE SUPER TEAM! >.<
Dan team building pun diupayakan untuk diadakan. Ini hasil team building kami :
Banyak hal yang sudah kami lalui bersama, banyak masa-masa yang kami hadapi bersama. Senang, sedih, ngambek, bete, semangat naik-semangat turun lagi, kecapekan, drop hingga sakit. Yah, prosesnya sendiri memang tidak mudah. Mulai dari proses menentukan alat ukur yang akan dibuat-ini kita bergelut dengan latar belakang, alasan, manfaat, dan tujuan kita membuat alat ukur. Percaya deh, ini benar-benar langkah awal yang penting dan menentukan keseluruhan alat ukur yang akan kami buat, makanya nggak mengherankan kalo kami digembleng di sini. Kita harus benar-benar kuat di sini, itu yang tertanam dalam benak kami. *Thanks to Om Ip dan Mbak Julia yang membimbing kami :)
Belum lagi proses memusingkan lain setelah topik alat ukur terpilih dimana kami harus cari referensi-milih yang mana dari sekian banyak, proses pencarian bahan yang memusingkan karena keterbatasan akses jurnal atau buku yang tersedia misalnya, serta hal-hal lain karena ini itu dan tralala trililinya.
Belum lagi secara internal harus tetap dijaga, dimana kami 'berdamai' dengan kelompok untuk mencapai satu misi besar dan mencapainya dari (mungkin) sekian perspektif langkah kecil berbeda yang seharusnya kami ambil, bertoleransi tetapi juga tidak permisif dalam kelompok. Perjuangan yang harus dilalui memang tidak hanya fisik tetapi juga mentally for sure. Capek raga, hati (kadang-kadang), capek pikiran. Fisik yang udah lelah karena waktu yang memang harus rela disisihkan bahkan di luar jam kuliah untuk menyelesaikan tugas pembuatan alat ukur kebanggaan kelompok masing-masing, bergumul dengan waktu yang sempit dan deadline yang mencekik, belum lagi pembagian dengan tugas lain yang tidak kalah penting walau terkadang alkhirnya kami nomor sekian-kan.
Bukan, sebenarnya saya tidak ingin menyebut KAUP sebagai momok yang menakutkan. Karena toh saya menjalaninya dengan enjoy bersama kelompok saya. Saya bersyukur karena kelompok saya ini penuh dengan toleransi, mungkin karena semua anggotanya sendiri merupakan orang-orang yang terlibat juga di organisasi jadi kurang lebih kami bisa (atau harus bisa) saling memahami keadaan kami dengan tanggung jawab masing-masing. Gimana enggak, 5 dari 6 anggota merupakan pengurus BEM sedangkan 1 orang lagi tidak kalah aktifnya di organisasi keagamannya.
Beruntung kami juga mengambil langkah yang tepat dengan men-set tujuan dari awal, komitmen dari awal, dan batasan toleransi. Dan ibu ketua yang super ciamik. *Thanks to Eky yang udah mau sabar ngingetin, jadi komandan kapal KAUP kita :)
Meskipun begitu, toh kami masih bisa menemukan kesenangan di sela-sela proses pengerjaan alat ukur ini. Masih bisa berbagi tawa, olok-olok, candaan yang terkadang ga penting tapi semua itu membuat semuanya menjadi menyenangkan. Putus asa dan depresi (mungkin) memang sempat mampir tapi kami tahu caranya deal with it. *alhamdulillah
Kami masih bisa sekedar jalan bareng, karaoke, makan, ketawa-ketiwi, bahkan mampir 'mencicipi' rasanya belajar di perpus pusat. *ini saat UAS lho, di kala deadline udah di depan mata...haha.
The Girls : Dania, Eky, Me :)

KOPROL, without Alim

KOPROL without Daniel
Di dalam perpus :)

Kami pun sampai menobatkan anggota KAUP ke-7 (Kiprim) hingga anggota kesekian yang lain :P Satu yang bahkan ga penting-penting banget sih sebenernya : janjian baju buat komprenya. Kita semua harus tampil rapi. *Dan sepertinya kami terlalu lucky untuk dapat giliran kompre pertama, giliran pertama yang mengawali rangkaian kompre angkatan kami. Tepat satu hari setelah UAS yang lain berakhir. Di sini kami juga harus susah payah mencari Kompresor untuk latihan mengompre kami, grudak-gruduk cari sana-sini untuk sumber yang belum lengkap atau citation yang masih diragukan, alasan yang mungkin harus kami ajukan saat ditanya di kompre. Singkat cerita, kami benar-benar menyiapkan amunisi mati-matian untuk pertempuran kami itu, puncak dari kerja keras kami selama ini.
Awalnya saya merasa desperate, saya benar-benar takut. Malam sebelum kami kompre, saya bahkan sudah mengalami kehilangan nafsu makan dengan sukses. Malam sebelumnya kami memang melakukan persiapan terakhir untuk kompre kami dan paginya datang awal untuk review akhir.Paginya, ternyata keadaan lebih buruk lagi. Bukan cuma saya yang mengalami psikosomatis, tetapi sepertinya yang lain juga iya. Saya sempat mual dan tidak bisa menelan apapun bahkan untuk minum pun saya tidak mau. Yang lain juga mengalami ketidakinginan untuk menyantap apapun sebelum kompre, entah karena mual juga atau sekedar melilit.
Akhirnya, saat waktunya tiba saya memutuskan untuk pasrah. Dan memang hanya bisa pasrah juga berdoa sepertinya.Kami pun masuk ruangan dan kompre berjalan selama kurang lebih 2 jam. Kami mendapat kesempatan untuk ditanya-tanya sesuai dengan permintaan kompresor dan juga mengajukan diri saat pertanyaan dilempar ataupun periode rebutan. Di sini kami juga masih menerapkan toleransi dan saling back up sebisa mungkin. Semua pun termasuk berjalan dengan cukup lancar dan pertanyaan yang kami takutkan akan keluar justru tidak keluar. Kami cukup yakin dengan jawaba yang kami berikan dan cukup puas karenanya.
Kompresor mengetahui ketegangan kami dan berusaha menurunkan tensi agar kami lebih relax. Begitu kompresor mengatakan kompre sudah selesai, kelegaan kami tidak bisa terkatakan lagi. Akhirnya, selesai sudah perjuangan kami dan paling tidak kami sudah memberikan yang terbaik yang bisa kami lakukan. Jadi, setelah semuanya berakhir pun NO Regret :)
Begitu ruang kelas tempat kami kompre dibuka, banyak teman-teman kami sudah menunggu di depan untuk gilirannya. Dan begitu kami keluar itu, mereka langsung menyambut kami dengan meriah dan tepuk tangan. Kami nyaris speechless setelah akhirnya semua berakhir.
Setelah itu kami pun benar-benar dapat menikmati masa free kami dengan bersenang-senang. Sayangnya, saya tidak diperbolehkan untuk mengganti baju saya yang super rapi jali selama jalan-jalan ini. jadilah kami seperti anak kantoran yang hang out setelah pulang kantor.
Aaaaah....kalo diingat lagi sekarang masa-masa itu menyenangkan loh (prosesnya maksud saya). Saya jadi gampang kangen mereka sekarang, mungkin karena hampir tiap hari bertemu yaaaa.
Yuuukkk aaah,,,kita jalan-jalan lagi kalo gitu. Ice skating, karaoke, atau sekedar makan? Ayo aja lah :D

Galau Kompre

Semestinya ini di-post pas malam hari sebelum kompre KAUP menjelang. Yah, beginilah rasanya >.<

Before:
27 Mei 2011,
will it be a happy or sad ending story?

Wondering. Hoping. Let's start to make a turning point.

Semoga mendapat pengalaman, pembelajaran, pendewasaan.

Maunya gitu, yaolo tapi saya deg-degan. berasa ga siap deh.
Please, wish me luck for the Kompre of KAUP!

During the process : Alhamdulillah berjalan lancar, setelah berhasil melewati cobaan puncak di KAUP....Ini yang dirasa.

After
:
Thanks God, we can make it. And we believe that everything will be alright.
We've done our best, giving our best effort. It such a relief :P
Finally we can say : I'm done with KAUP :) *still waiting for the result. Wish us luck! >.<

Jumat, 20 Mei 2011

just tired, that's all

Saya sering capek deh belakangan ini.
capek raga. capek emosi. capek buat pura-pura saya ga kenapa-napa. capek buat bilang kalo saya cuma kecapekan biasa. Toh, apa kalian juga peduli? atau bahkan capek cuma buat bilang kalau ini semua kayak mulai keluar jalur. capek buat bilang, "hey, we need to focus!we need to get back on the track. Don't you realize?"
capek buat nanyain. capek buat ngarepin kepedulian. juga capek pengen jadi orang yang didengar. Berapa kali sih saya bilang, gini bisa lho. Hasilnya? Jarang juga digubris. Sekalinya dikasi tau yang lain, baru deh jeng jeng! lama-lama saya capek berhari-hari kayak gini. capek buat peduli. selanjutnya saya memilih untuk diam. mendekam.
toh buat apa juga saya bicara, ya kan?
I'm just tired, that's all.


-end of discussion-

Minggu, 15 Mei 2011

another hyperhibernate story

Tengah malam begini, saya jadi merenung. Wondering why, belakangan ini saya bukan lagi disibukkan dengan begadang malahan hampir selalu ketiduran cepat. Kalaupun bangun tengah malam atau pagi butanya, itu dengan kondisi kaget karena (ternyata) sudah sempat tertidur cukup lama, walau saya akui tidak terlalu nyenyak dan menikmati karena tidak terencana. Why oh why?
Saya masih punya seabrek tugas, to do list yang teriak minta segera dicoret dan diganti dengan tanda DONE! Walhasil? Bangun tidur di tengah malam atau pagi buta itu segera beralih dari kaget menjadi desperate. Tugas saya masih banyak, tapi saya malah merasa lemas dan mendadak menjadi the man who can't be moved *jika meminjam istilah wanda* (from the bedroom), untuk segera menyentuh kewajiban-kewajiban saya.
Jangankan untuk bangun, untuk membuka mata saja rasanya susah setengah mati. yang ada saya kemudian pasrah dan kembali memejamkan mata. Sukses tertidur kembali dalam hitungan sepersekian menit.
Kalo dipikir-pikir lagi, kayaknya saya lagi mengkompensasi kondisi saya yang sedang not good dengan tidur yang banyak, lama, dan panjang. Salah satu tanda stress atau pengalihan diri dari masalah kah? Saya juga tidak tahu pasti jawabannya. Yang jelas, belakangan saya sering merasa mudah lelah, tak bersemangat, mood turun mendadak, hingga menyebabkan emosi yang tidak terkendali. Mulai dari sensi sendiri hingga mendadak sedih dan ingin menangis.
Saya jadi teringat kata-kata Ashma pada saya, yang dengan polosnya mencetuskan (yang belakangan mulai saya pikirkan, jangan-jangan benar adanya). "Jangan-jangan kak Sis depresi, kak.Coba konsul ke klinik deh kalo nggak" Dan perkataan itu sukses menohok saya, membuat saya mendadak berpikir. Apa iya? Wah, jangan-jangan iyaaaaa :(
Hingga kemudian saya ceritakan ini sama si Ay dan kembali seperti biasanya dia menanggapinya dengan santai. Kurang lebih begini, "Jangan terlalu dipikirin yang begitu. Nanti malah kamunya internalisasi diri lagi".
Saya tahu, maksud si Ay baik. Dia pasti berusaha nenangin saya biar saya nggak kepikiran macem-macem. Yah, karena jujur saya ini orangnya gampang banget kepengaruh kata-kata orang lain. Tapi saya mikir lagi, mungkin aja sih. Apalagi beban tugas lagi gencar belum lagi musibah nggak terduga yang sukses meluluhlantakkan pertahanan saya semester ini. Saya ngerasa gamang, terombang-ambing. Bingung. Harus ngapain saya?
Apa saya lagi ditegur? Kalo iya, saya harus ngapain lagi dong? Duh, beneran deh saya lagi nggak ngerti sama diri saya jadinya.
Tapi, belakangan si Ay bilang lagi. Katanya, kebanyakan anak psiko kemungkinan mengalami si depresi itu tadi. Paling tidak tingkat ringannya. Yah...saya sih cukup percaya dan sependapat.

00:46, tumben betul saya masih bisa terjaga jam segini. Walau, tetap saja dengan kepala separuh pening. Kasur saya menunggu buat dikasih seprai, kamar saya masih messing around.
Dan tiba-tiba saya terpikir, Heaven...apa kabar ya kau di sana? Di mana dan dengan siapa kamu sekarang? I'm missing you so bad :(


*depok, di tengah malam saat tidak tahu kenapa masih bisa terjaga dan justru belum atau malah nggak ngapa-ngapain

Senin, 31 Januari 2011

Arrrrgggghhhhhhhhh!!!

Saya sebenarnya kemarin sedang sedikit kesal
dengan seseorang
sebut saja si X
bukan bermaksud mau bete-betean lama atau gimana
saya paling ga bisa begituan sama orang
buat ngomong bete atau kesal saja susah
akhirnya yang ada saya cuma pendam untuk beberapa saat,
mungkin luapkan lewat tulisan seperti saat ini
atau ngomong/cerita sama orang terdekat
Entah Gaby, Dew, Wanda, Ay, Kiol, Onye...anyone


yang jadi penyebab masalah kecil sih sebenarnya
tapi tak elak bikin saya kesal juga
habisnya, saya sudah bolak-balik sms orang buat janji ketemuan
temu kangennya kami,
awalnya dibilang ngikut-ngikut saja
saya pikir dia free to go kapan aja
akhirnya terputuskanlah harinya
eh, tak berapa lama setelah saya sms dibilang ga bisa
karena mau ke tempat lain, ada urusan lain
ternyata...


waktu ditanya ulang lagi bisanya kapan tidak dijawab
bukan gimana-kenapa
tapi saya di sini cuma terhitung sebentar lho
dan saat saya sudah berusaha spare waktu untuk pergi
malah begini jadinya
saya jadi makin paham perasaan teman saya saat akhirnya liburan bersamanya gagal
toh ini juga sudah saya tanya bisanya kapan
saat dibilang ngikut, ekspektasi saya dia free loh
salah emangnya?
kecuali dia bilang dengan if condition dia, saya kan juga bisa sesuaikan jadwal
toh saya ga ada kesibukan juga di sini
cuma tinggal atur sana-sini saja
dan biar saya pun ga jadi ga enak hati sama si tuan rumah

Arrrgggggggghhhhhhhhh!
akhirnya saya cuma bisa pergi berdua saja
saya cuma mau tidur deh kalo gini jadinya

Sabtu, 29 Januari 2011

just wish me luck, then



You can't always get what you WANT but if you try sometimes you get what you NEED

Beberapa waktu ini saya mencoba mensugesti diri saya sendiri dengan kalimat itu. Entah dengan mendendangkannya ataupun dengan mengucapkan deretan kalimat itu dalam hati. Pasalnya, beberapa saat yang lalu saya baru tahu kalo ternyata kelas saya untuk mata kuliah Pelatihan 1 mendadak pindah dari kelas A menjadi kelas E. Dan dasar memang nasib, hanya saya saja yang terpindah dengan semena-mena ( thanks to SIAK enjih :( ), sedangkan teman-teman sekelompok saya yang lain tetap anteng di kelas kami semula. Berita ini tak elak sukses membuat keseimbangan mood liburan saya terganggu. Nasib memang nasib, saya sudah berusaha menghubungi manajer pendidikan yang sekaligus merupakan PA saya dan meminta penjelasan juga kemurahan hati. Namun, apa boleh dikata. Malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih (eh, bener ga ini peribahasanya. hehe). Keadaan saya tidak bisa diapa-apain lagi. Akhirnya saya pasrah, stagnan dalam kondisi ini. Usaha terakhir, saya minta tolong teman sekelompok untuk menanyakannya kembali secara langsung besok senin. Entah apa yang akan terjadi. Tapi saya masih menggantungkan harapan pada hari senin itu.

Please, pray for me and wish me luck :)

xoxo, with love

Sabtu, 25 Desember 2010

maybe you're right, that i am a selfish person

Maaf deh, kalo aku kayak gini
Maaf deh, kalo ternyata ngecewain
Maaf deh, kalo ternyata ga setegar yang mungkin dikira
Maaf deh, karena panic-nya ngalahin semuanya
Maaf deh, tapi aku ga tau lagi mesti gimana
karena beneran ini udah panic tingkat dewa
Maaf deh, ternyata aku emang lemah
that's what you told me, right?

bahkan akupun ga bisa jaga perasaan orang
pasti begitu,
banyak yang udah aku kecewain semester ini
bahkan ga sedikit yang marah sama aku
aku memang bukan teman yang baik, bukan juga saudara yang baik
untuk menjaga perasaan dan ngebahagiain teman juga saudara sendiri aja ga bisa
That's what you think of me right now, don't you?
that i'm a selfish person


-end of discussion-

Rabu, 21 Juli 2010

bocah kacrut.com



Nah, ini dia nih kisah konyol (yaaaa ga juga si sebenernya), yang lucu (yaaa kalo ga dibilang jayus juga bole), dan aneh bin ajaib (kalo yang ini emang bawaan dari bocah-bocahnya).

Jadi begini, alkisah pada suatu malam minggu yang sepi di kosan tercinta datanglah rombongan cowok-cowok labil yang datang berkunjung. Awalnya siang hari mereka hendak ke kosan, karena kontrakan Lisuma sedang sepi. Namun, apa daya sang pemilik kosan yang hendak didatangi sedang ada urusan yang harus diselesaikan dulu di siang harinya. Jadi, rencana terpaksa dipindah ke waktu yang memungkinkan jadwal semua orang. Tentunya biar semua senang, semua riang. hahaha
Dan untungnya bocah-bocah datang dengan baik hatinya membawakan upeti yang memang diminta sebagai ganti kosan bole dijadikan base camp hari itu. Yah, tentu saja tak laen dan tak bukan adalah makanan (haha, apalagi coba sogokan yang bakal langsung diterima dengan senang hati oleh kami) LOL
Dua cowok ini yang secara garis persaudaraan sebenarnya masih om dan
tante eh om dan ponakan maksudnya datang berkunjung karena malam itu mereka menjadi pria-pria kesepian. Sang pacar ponakan yang biasanya dijuluki ibu negara oleh bocah-bocah tidak jelas ini dan sialnya kami ikut-ikutan (mau ga mau, halah) memanggil demikian juga berada di daerah yang jauh dari jangkauan saat itu (atau memang si ponakan sedang tidak bisa menjangkau sebenarnya, hehe) sedangkan si om baru saja end up relationship sama ibu negaranya... Yasudahlah bertandanglah mereka ke kosan dua perempuan cantik, manis, tapi masih available itu *penting ya? hehe* beserta seorang teman cowok juga dalam kunjungan itu. Jadi ganjillah tamu kami malam itu (yang memang sebenarnya dari sononya juga udah ganjil bin random). Walhasil, 3 orang cowok meramaikan ruang tamu kosan yang sepi kalo lagi weekend dengan tujuan tidak jelas yaitu untuk ngelabil (bukan ding, ini mah istilah komplotan saya yang lain). Yah sebut saja membunuh kebosanan dengan kongkow-kongkow (ini lagi-lagi istilah mereka), bicara tidak jelas (tentang apa saja sumpah...) mulai dari urusan hati, kuliah, gosip terhangat, candaan, ceng-cengan masalah percintaan, hingga urusan perut tentu saja (untuk yang satu ini jelas siapa yang jadi sasarannya), yang tak lupa juga ditemani sekotak martabak hangat dan juga sebotol fanta dingin. Hmmmm....enak juga lah, lumayan rejeki emang ga kemana. (eh, tapi lama-lama bisa tambah buncit nih perut dua cewek manis, cantik yang tersebut di atas) Hahaha....who cares, anyway :))

Nah, untuk minum fanta yang udah dibawain dengan baik hatinya oleh tu bocah-bocah, jadilah si tuan rumah mengambil gelas yang ada di kamarnya untuk para tamunya malam itu. Apa daya, karena persediaan gelas dengan ukuran yang nyaris sama (beti2 dikit lah) sangat terbatas, maka diambil apa adanya dan yang seadanya apa di kamar. Walhasil keluarlah saya dengan membawa 2 gelas standard dan 3 gelas ukuran yang lebih kecil (yaaah, kalo dibilang bocah-bocah kacrut sih terlalu jauh kecilnya), yaah apapunlah. Ditaruhlah gelas-gelas tak berdosa itu di atas meja ruang tamu dengan harapan ya sudahlah mereka juga sudah besar-besar ini, bisa ambil gelasnya sendiri nanti di meja.
Sampai kemudian, waktu berlalu tik tok tik tok...masi blum ada yang beranjak mengambil posisi gelas masing-masing gara-gara keasyikan ngobrol. Wah, kagak pindah-pindah juga ni gelas dari tongkrongannya kalo ga diedarin juga, batin saya. Akhirnya, bergeraklah saya mengestafetkan gelas-gelas yang sedianya nongkrong di meja agar segera terdistribusi ke bocah-bocah yang ada di situ.
Distribusi mengalir dengan lancar, tanpa ada maksud kesengajaan, persekongkolan, ataupun taktik muslihat tak terlihat tetapi menghasilkan hasil distribusi yang dinilai tidak adil oleh bocah2-bocah kacrut (baca:tamu2 cowok) karena gelas si dua cewek empunya kosan kebagian gelas dengan ukuran standard (yang memang hanya ada dua), sementara para tetamu ini kebagian 3 gelas dengan ukuran sama yang lebih kecil dibanding si gelas standard (yang memang sedianya ada 3)
Walhasil, setengah tidak terimalah mereka dengan keadaan ini. Nah looooh :))

Bocah2 yang ga terima itu lalu mengancam akan memotong gelas yang akan kami pakai minum jika kami datang ke kontrakan nanti. Biar situasinya sama, 1-1....haaaaaahhhh. What an idea! *kocak banget sumpah pas mereka ngancam mau ngelakuin hal satu itu. Yah namanya juga bocah kacrut tidak terimanya pun masih juga disisipin bercandaan khas mereka yang (kadang-kadang ga masuk akal). Lucu si, tapi pada saat yang sama jayus juga.Ya secara, disampaikan dengan bahasa mereka yang konyol, lucu, dan jayus siii....jadi ya kami tertawa saja. Tuuuuh kan....emang dah Life oh life....! It's fun but sometimes hard too. Jadi, selagi bisa ketawa ya sudahlah dinikmati saja :)) Tertawa sampe perut kenyang, hati riang, tidur senang :D *apadah ini :))
masi deh, ngeributin gelas? Emang dasar bocah-bocah kacrut :D

Selasa, 06 Juli 2010

renungan malam (friendship)

Saya mendadak terinspirasi dan tergugah gara-gara pertanyaan yang tiba-tiba diajukan oleh teman saya di suatu malam sepi, kira2 seminggu yang lalu (kalo sekarang sih hitungannya udah jadi seminggu yang lalu berbulan-bulan sebelumnya, hehe). Pertanyaannya menggelitik saya untuk berpikir dan merenungkannya cukup lama.

"Kenapa ya, orang itu gampang cari musuh daripada dapet temen?"

Terdiamlah saya sejenak begitu pertanyaan itu terlontar......Dan pikiran saya pun melayang, teringat beberapa peristiwa yang ada dalam kehidupan saya. Hmmm...iya ya. Memang kita tuh gampang banget cari musuh tapi susah banget dapetin temen. Like one in a million lah ibaratnya...(deuuuuh) Saat itu, jawaban yang spontan saya lontarkan justru membuat saya gantian merenung dan termenung. Jawaban yang saya lontarkan sebenarnya sederhana. Saya kutip lagi jawaban saya waktu itu,

" Ya iyalah, Ki. Seribu kebaikan kita baru akan membuat kita diingat sebagai orang yang baik oleh orang lain hingga pantas mendapat predikat teman. Nah, padahal kebaikan itu dengan mudahnya dapat dihapuskan oleh satu kesalahan. Orang gampang melabel orang lain musuh karena satu kesalahan aja."


Nah, tulisan kali ini sebenarnya tak lebih sekedar untuk merenungi kembali dan merefleksikan pemaknaan dari obrolan tersebut di atas (walau sudah terjadi di waktu yang cukup lama). Ironis banget ga sih, satu kesalahan yang menghapuskan seribu kebaikan. Ironis lagi karena betapa susahnya kita untuk dapat diingat sebagai orang baik (seribu perbuatan baik) sedangkan dengan mudahnya kita dianggap sebagai orang yang tidak layak dianggap sebagai teman hanya karena satu kesalahan saja. Bayangkan, satu kesalahan saja. Kita akan diingat orang karena seribu kebaikan kita. Itu yang menjadikan banyak orang berteman baik. Sementara, nama baik kita bisa jadi jelek hanya karena satu kesalahan saja. Ibarat kata peribahasa, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Agak lebay sih, tapi pada kenyataannya memang ada saja yang demikian. Nah, dapetin teman baik itu susah banget lho. Makanya kita harus bisa pintar2 maintain pertemanan kita itu agar tetap dapat berjalan harmonis dan kalopun ada konflik ga akan berkepanjangan dan membuat rusaknya ikatan persahabatan itu. Dan, itu sama susahnya kayak ngebuat pertemanan yang baru. Teman itu kan tempat buat berbagi suka dan duka, tempat kita menumpahkan isi hati dan berkaca kembali merenungkan segala yang terjadi. Maka, yang seharusnya kita ingat saat kita sudah mendapatkan teman yang baik, teman yang klop, teman yang bisa mengerti kita, nyambung dengan segala macam jalan pikiran kita-bahkan yang aneh sekalipun....which is susah sekali ditemukan orang-orang seperti itu di dunia ini...hal yang harus kita lakukan adalah menjaga baik2 pertemanan kita itu. Kalo ada yang kurang srek satu dua hal dari si teman ini, ya wajarlah. Namanya juga manusia, toh ga ada yang sempurna. Dia aja bisa dan mau menerima keadaan kita yang seperti apapun itu dengan apa adanya, kenapa kita tidak? Kalo dalam psikologi, kita harus dapat menerapkan yang namanya
UNCONDITIONAL POSITIVE REGARDS
dalam hal ini. Yaitu penerimaan apa adanya atas diri seseorang, di mana kita mau menjadi temannya (dalam hal ini), bukan karena hartanya, parasnya, jabatannya, keuntungan buat kita, intinya hal-hal yang baik saja melainkan harus menerima orang lain seutuhnya-sampai kekurangan yang dimiliki.

Dengan demikian, kita menghargai posisinya sebagai individu yang unik, yang jelas berbeda dari individu yang lain, yang mempunyai ciri khas-nya sendiri. Susah sih memang. Tapi you'll never know until you've tried, right? And also remember it is never too late to learn. So, better we learning it by doing it. Remember, practical is important. Once we try , then we'll know what we can do for the next round on our friendship circle.

Just Try, Learn, and Enjoy!



xoxo, with love


Kamis, 10 Juni 2010

Birthday Regret :(


Bulan ini, lagi-lagi saya terpaksa harus menelan kekecewaan dan menimpakan pada diri saya sendiri karena (mungkin) setelah sekian lama, saya (lagi2, yah mungkin untuk yang kesekian kali) melupakan hari penting dalam kehidupan teman saya. The day that symbolized the present of her in the world, hari yang menunjukkan eksistensi dia, hari di mana dia untuk pertama kalinya menjadi individu yang "mandiri" secara ragawi karena telah terpisah dari "saudara"nya selama di kandungan. Hari yang bila hari itu dia tidak terlahir di dunia, bila saat fertilisasi yang terjadi sperma yang mengandung sari dirinya tidak memenangkan pertempuran untuk memperebutkan kesempatan memperoleh eksistensinya di dunia, maka untuk saat yang lampau, kini, dan seterusnya saya tidak akan dapat mengenal, berteman, bersahabat, berbagi cerita, dan mengetahui kehebatannya.

3 Juni 2010, hari yang telah saya lupakan sejenak sebagai hari yang spesial baginya. Lupa sama sekali sebenarnya tidak, toh sebenarnya sebelum hari itu datang pun saya teringat bahwa hari itu di awal Juni ada salah satu sahabat saya yang akan merayakan hari bahagianya. Pada hari H-pun, dibilang benar2 lupa pun tidak juga. Toh saya sempat sekilas membuka account facebook saya dan mengintip untuk sekedar memastikan. Benar2 melupakan setelahnya pun sebenarnya tidak juga karena saat malamnya pun saya masih teringat bahwa saya masih punya "hutang" janji pada diri saya sendiri untuk mengucapkan selamat yang walaupun tidak spesial tapi paling tidak menunjukkan bahwa saya masih ada untuk dia. walopun (mungkin) tidak cukup care untuk mengucapkan selamat pada malam pergantian tanggalnya pada jam 12 teng. Tapi malam itu (lagi2) saya harus menelan kekecewaan karena belum sempat mengucapkan selamat padanya.

Hari pun berganti, sehari dua hari saya belum juga bisa menjangkau (sekadar) account dia untuk mengucapkan selamat. Wara-wiri kampus, memang tetap jadi rutinitas tapi toh tidak sesibuk saat hari-hari kuliah biasanya juga. Saat hari semakin jauh dari tanggal lahirnya, saya semakin ragu untuk mengucapkan selamat. Hellooo, ini udah berapa hari berjalan ya...! Kemana aja lo selama ini? Begitu yang ada dalam benak saya, setengah meneriaki diri saya sendiri. Akan kebodohannya, kemalasannya, kesenangannya menunda melakukan sesuatu, keragu-raguannya mengambil tindakan, dan segudang ke-an nya yang lain. Akhirnya, saya putuskan. Now or never! Daripada semakin terlambat nantinya, walaupun banyak orang bilang "Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali". Hey hey hey...tapi tetap saja keterlambatan saya kali ini sudah keterlaluan. Mau ditambah berapa hari lagi keterlambatan yang keterlaluan ini? Batin saya. Sehari, seminggu, atau malah sebulan???

Dan, pada akhirnya beberapa hari yang lalu saya ucapkan pula "Happy Birthday" itu padanya. Beriring dengan segenap doa yang (menurut saya) masih ala kadarnya dan standard-standard saja. Maafkan temanmu ini ya...:(


Hope you'll like it, Fella
xoxo, with love

Senin, 24 Mei 2010

Better for the Best


not now...not even tomorrow... not even i know the beginning for the ending and yet, i still don't know where this gonna end maybe tomorrow just won't start to count by today yet,,,tomorrow will still be mistery but maybe, for us there just will be no tomorrow just go in our own land and fight on each part of our decision and let this pain be cured by itself and then maybe... we'll be better on each other way and growing in each other path through each other day we'll be strong to what we hold on maybe someday that can be true for you and me that's what i'm into



Jumat, 07 Mei 2010

Enjoy the Silence

We talk

We laugh

We share dream


We mutter

We do nothing


then

We have a silence


For me, it doesn't matter how we communicate each other

Because after all we've been through,

We doesn't have anything more understanding us better,


nothing but the silence (maybe)


which doesn't seem so bad


Silence is just as great as many communicate way we have had

Sometimes, we just need silence to speak more what we mean one another

coz sometimes it just talks so much


And in the end of this story i'm telling you

When silence is just amazing

We don't even need to speak out loud


and when it comes...


what we should do is just enjoy the silence


Minggu, 02 Mei 2010

Hate that I Love you


You don't even know how much i love you that makes me want to hate you
even with all the rules in the game of love

pretending and such a drama play

or
maybe you don't want to know at all?
nor for caring


I hate this part when i have to face the world alone
and like Secondhand Serenade said...
I'm tired of being all alone
then again....and over again
I can't be honest with myself


I hate myself when it comes
some kind of feeling having no power to fight

no promises to keep

no certainty to hope

I just want to make it simple
so simply as it sounds

No, I'm (not) addicted to you
It is not.... but the fact is
I hate myself for losing you
I don't know why it must be you
all i know that love is just love

Do I need any reason for loving someone?

it is just fine anyway



Am i wrong if i'm blaming you
because overall of this
the only thing i'm very sure about is

how much i hate that i love you





Minggu, 14 Maret 2010

thanks, in the name of........

Ketika badai datang menerpa, ga selamanya kita ngelihat sisi suram dan ketidakbahagiaan. Terkadang, dengan adanya badai itu kita bisa melihat apa yang justru selama ini ga terlihat oleh kita karena ga kita sadari....Mungkin karena sinar matahari yang terlalu terik bersinar, karena awan yang menutupinya, atau mungkin juga karena we just don't care at all. Termasuk dalam hal pertemanan.

Pernah ga sih, kamu ngerasa beruntung banget karena banyak teman yang perhatiaaaan bangeeeet sama kamu? Bersyukur karena di saat adanya ketidakberuntungan kamu masih bisa-bisanya bersyukur dan tidak henti-hentinya diberi nikmat oleh Allah SWT karena punya teman-teman yang sangaat baik sama kamu. Dan hal ini justru baru bisa kamu lihat, rasakan, dan sadari saat kamu terpuruk, terkena terpaan masalah, terombang-ambing di tengah dahsyatnya badai bernama kehidupan *duileeeee.....
Dan di saat itu juga, kamu sekaligus bisa ngelihat betapa besarnya kasih sayang Allah SWT padamu. Sayang, saya baru menyadarinya justru setelah badai itu menghampiri. Mungkin saja terbilang terlambat, tapi sekarang aku semakin yakin bahwa dalam setiap peristiwa yang terjadi pasti ada sebuah hikmah yang dapat dipetik.
Dan Allah pasti mempunyai sebuah rencana untuk kita. Bukan seperti apa yang kita inginkan, melainkan seperti apa yang kita butuhkan......:)



thanks for all the laughter

thanks for the crying

thanks for the brilliant idea

thanks for your amazing jokes

thanks for your great suggestion


thanks for all the joy we share


thanks for all the journey we have

thanks for the story we told to the world


thanks for all the memories we've been through

thanks for not asking when I don't mean it


thanks for showing me how to smile after the wind and hurricane come


thanks for curing my pain


thanks for making me feel comfortable


thanks for listening me


thanks for being such a nice friends


thanks for allowing me show the real me, even the worst side of me


thanks for allowing me see another side of you


thanks for not letting me down

thanks for not letting go of me


and finally......


thanks for your friendship to me :)



Friends.....
you're all that i have and you're all that i need.
Please...stay with me and let our friendship spring and last forever


xoxo with love .........<3 <3 <3

Minggu, 07 Maret 2010

Me vs the World, I'm (not) ok




Ini adalah luapan perasaan saya beberapa saat yang lalu, ketika saya secara (tiba-tiba), hampir serempak dihadapkan pada beberapa kejadian, dan yang cukup membuat saya mengalami up and down sekaligus membuat saya merenung.
Hanya saja..............
Jangan harap kamu akan membaca sesuatu yang luar biasa, kata-kata di bawah ini justru cenderung memperlihatkan sisi pesimistic diri saya. (Better not expected too much then)


The world is fight against me
And the consequences is Me against the world
Sometimes, i'm asking myself a question
Am I too much to ask, or even too much in wanting something?
I'm not mad,
I'm just being crazy on my own world


there's enough trouble
there's enough unfortunate event
there's enough some kind of pain
I've let through my defenses
I'm tired already
pretend that everything is ok
standing still in my place
look definitely fine outside,
like i can handle it and resist this
but....
deep inside it's vulnerable

How suppose i expressed my feeling?
When someday my last barrier couldn't stand still from this hurricane
and finally fall


This time it seems like the world all centered in me
The universe have decided
stands its position to be contrary
I just feel like i'm isolated here
somewhere nobody belong
alone, lonely by myself
coz there's just me and this
far apart by the last barrier


The universe have decided to be my enemy
stands its position loudly
then......
it'll be my decision
either i'll take that as a obtacles
so I face this world as if it's fight against me
or i'll accept this condition and try to deal with it
which is not show that i'm vulnerable
but
it'll show that i will be stronger than I did before

Maybe someday,,,,,when i wake up
i'll realize the situation is keep getting better
and the world would smile
not just for you, me, but us
and we can show this greatest smile together :)



Ini bener-bener cukup efektif bagi saya sebagai ajang katarsis..... And believe me or not, now I can say that I'm totally fine
coz I can face the world with smile





Pages

Paling sering dibaca